Musyawarah Solusi Akses Warga Terhalang Perumahan Elite di Bandung

Akses warga Ranca Bayawak menuju pemakaman melalui terowongan di Bandung

Akses menuju area pemakaman warga Kampung Ranca Bayawak, Cisaranten Kidul, Gedebage, Kota Bandung, yang menjadi perhatian setelah warga membawa keranda jenazah melalui terowongan.

Bandung - Persoalan akses menuju area pemakaman di Kampung Ranca Bayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, menjadi perhatian setelah video warga membawa keranda jenazah melalui sebuah terowongan beredar di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan sejumlah warga membawa keranda melewati jalur dengan ruang yang terbatas. Kondisi itu kemudian memunculkan pembahasan mengenai akses masyarakat menuju pemakaman setelah terjadi perubahan kawasan di sekitar permukiman.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta persoalan tersebut dibicarakan melalui musyawarah antara warga dan pihak pengelola perumahan. Pemerintah Kota Bandung juga telah mempertemukan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi atas persoalan akses tersebut.

Farhan menyampaikan bahwa penyelesaian melalui dialog masih terbuka. Menurutnya, kebutuhan warga dan kondisi teknis jalur perlu dibahas bersama agar dapat ditemukan pengaturan akses yang bisa diterima oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Terowongan Menjadi Perhatian

Akses menuju pemakaman Ranca Bayawak menjadi sorotan karena warga harus melewati sebuah terowongan ketika membawa jenazah. Berdasarkan laporan dari lokasi, terowongan tersebut memiliki panjang sekitar 50 meter dan ketinggiannya kurang dari 2 meter.

Kondisi ruang yang terbatas membuat rombongan pembawa keranda harus bergerak lebih hati-hati. Jalur tersebut juga berada di kawasan yang memiliki persoalan drainase ketika curah hujan tinggi.

Sebelumnya, jalur menuju area pemakaman disebut lebih mudah dilalui warga. Perubahan akses kemudian terjadi seiring perkembangan kawasan perumahan di sekitar Kampung Ranca Bayawak.

Pemkot Bandung Membuka Jalur Alternatif

Farhan menjelaskan bahwa Pemkot Bandung telah melakukan langkah untuk membuka akses alternatif bagi masyarakat. Salah satunya dengan membongkar konstruksi bekas jembatan yang sebelumnya menghambat jalur tersebut.

Jalur alternatif itu kini dapat digunakan warga. Namun, rute yang tersedia membuat perjalanan menjadi lebih jauh karena masyarakat harus memutar dibandingkan menggunakan jalur sebelumnya.

Menurut Farhan, kondisi tersebut berarti warga masih memiliki akses menuju kawasan di luar permukiman. Persoalannya lebih berkaitan dengan jarak dan kenyamanan perjalanan karena rute alternatif membutuhkan waktu tempuh yang lebih panjang.

Jalur Bawah Terowongan Dipengaruhi Kondisi Hujan

Selain persoalan jarak, kondisi teknis jalur juga menjadi perhatian pemerintah. Farhan menjelaskan bahwa area tersebut merupakan bagian dari jalur aliran air sehingga penggunaan jalur dapat terganggu ketika musim hujan.

Pada musim kemarau, kondisi jalur cenderung lebih kering. Sementara saat hujan deras, keberadaan aliran air membuat penggunaan jalur perlu mendapat perhatian lebih.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya pembahasan bersama untuk menentukan solusi akses yang sesuai dengan kebutuhan warga dan kondisi lingkungan.

Warga Sebut Akses Underpass Sudah Diperbaiki

Pengurus RW 02 Kelurahan Cisaranten Kidul, Ayi Mulyadi, mengatakan jalur menuju pemakaman melalui terowongan saat ini dinilai sudah cukup layak digunakan.

Menurut Ayi, terowongan tersebut sebelumnya pernah mengalami genangan ketika hujan deras. Genangan terjadi ketika mesin pompa otomatis tidak berfungsi sehingga air dapat masuk dan memenuhi bagian bawah terowongan.

Ia menyebut pengelola kemudian menyiagakan mesin pompa selama 24 jam. Langkah tersebut dilakukan agar air dapat segera dikeluarkan apabila terjadi hujan deras atau peningkatan debit air di sekitar lokasi.

Jalur Dahulu Berupa Jalan Setapak

Ayi menjelaskan bahwa sebelum kawasan hunian modern berkembang, masyarakat biasa menggunakan jalan setapak di sekitar benteng atau gawir Sungai Cisaranten untuk menuju tempat pemakaman umum.

Setelah kawasan perumahan dibangun, warga bersama pengurus lingkungan dan pihak kelurahan melakukan mediasi mengenai perubahan akses tersebut.

Dari proses pembahasan itu kemudian disiapkan jalur pengganti berupa underpass yang menghubungkan kawasan warga dengan area di sekitar pemakaman.

Underpass Juga Digunakan Menuju Persawahan

Selain untuk menuju pemakaman, jalur bawah tersebut kini lebih sering dimanfaatkan warga ketika hendak menuju area persawahan di sekitar kampung.

Sementara itu, aktivitas warga sehari-hari tetap menggunakan Jalan Rancabolang sebagai akses utama. Dengan demikian, underpass bukan satu-satunya jalur yang digunakan masyarakat untuk keluar dan masuk kawasan permukiman.

Meski demikian, kebutuhan akses menuju pemakaman tetap menjadi perhatian karena jalur tersebut harus dapat digunakan ketika warga membawa jenazah.

Pemkot Bandung Membuka Ruang Dialog

Pemerintah Kota Bandung menyatakan masih membuka ruang dialog bagi warga dan pengelola perumahan. Pertemuan lanjutan dapat dilakukan apabila masih terdapat persoalan yang membutuhkan pembahasan.

Musyawarah menjadi bagian penting dalam mencari penyelesaian karena persoalan tersebut menyangkut kebutuhan akses masyarakat sekaligus kondisi kawasan yang telah mengalami perubahan.

Dengan adanya pembicaraan antara warga, pemerintah dan pihak pengelola, pengaturan akses diharapkan dapat dibahas secara lebih jelas berdasarkan kondisi yang ada di lapangan.

Akses Pemakaman Menjadi Perhatian Bersama

Persoalan Ranca Bayawak menunjukkan pentingnya akses yang memadai untuk kebutuhan masyarakat, termasuk ketika warga harus menuju tempat pemakaman. Perubahan tata kawasan dapat memengaruhi jalur yang sebelumnya digunakan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Untuk saat ini, warga masih memiliki akses melalui Jalan Rancabolang serta jalur alternatif lainnya. Underpass juga tetap digunakan untuk kebutuhan tertentu, termasuk menuju area persawahan dan pemakaman.

Pemerintah Kota Bandung bersama warga dan pihak pengelola perumahan masih memiliki ruang untuk membicarakan pengaturan akses tersebut. Penyelesaian melalui musyawarah diharapkan dapat menghasilkan solusi yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kondisi teknis kawasan.

0 Komentar